Minggu, 05 Mei 2013

Anomali Stereotip

Selamat Malam. udah lama gw gak nulis di blog ini. maaf teman-teman. Gw sibuk parah. Waktu 1 menit adalah sangat berharga bagi gw sekarang ini. Gw udah gak kayak pas SMA dulu yang cuma masuk jam 7 pulang jam 2 trus bisa main. Dulu gw santai banget. Lebih santai dari orang-orang pantai. Tapi sekarang gw sangat sibuk. Lebih sibuk dari orang-orang pantai. Kenapa gw menggunakan preposisi "orang pantai"? karena sekarang gw kuliah dekat dengan pantai. Serius men, ITS Surabaya terletak di pinggir Surabaya Timur mengarah ke pantai Kenjeran. Pantai sepi yang hanya dikunjungi oleh orang-orang beragama yang beribadah di kuil dan sesekali beberapa pasang mesum yang pacaran di tengah kegelapan pantai di tengah malam. Kenapa gw bisa tau kalo pantainya gelap? Kareng gw pernah belajar Mekanika Teknik di pantai itu jam 11 malem bareng temen-temen. Besoknya ada kuis. Yap. Kami segerombolan perantau dari Jawa Barat yang baru pertama melihat pantai yang gak bisa dipake surfing. Yaiyalah, ombaknya aja cuma setinggi mata kaki. Mata kaki kucing.

Dilihat dari tempatnya yang deket laut ini, tempat gw tinggal di Surabaya ini sangatlah panas. Menurut intuisi ngasal gw, suhu saat jam 12 malem di tempat tinggal gw ini bisa mencapai 96.8 Fahrenheit. Itulah sebabnya gw selalu keringetan sepulang kuliah. Di kamar gw selalu telanjang dada. Kebayang dong betapa kerennya gw. Gw sering mampir ke kosan temen gw yang lain untuk merasakan hawa yang lebih baik. Yang terjadi adalah kita malah telanjang dada bareng. Kita sama-sama kepanasan karena kosannya sama-sama panas, ditambah ventilasi udara yang gak lebih besar dari ibujari gajah Timor Leste, dan genteng yang terbuat dari asbes yang notabene adalah campuran logam. Jadilah kita sepasang mahasiswa teknik dengan kulit kecoklatan matang di dalam kos-kosan dengan hanya memakai celana pendek. Gak ada satupun tempat dingin di Surabaya kecuali di dalem kulkas dan kosan yang ada AC nya. Yap, benar sekali. Diantara pada perantau pas-pasan yang ngekos di sekitar kampus selalu saja ada yang punya kelebihan dana untuk membayar ruangan dengan suhu yang lebih rendah.

gersangnya Surabaya, gw berdiri diatas sebuah danau tanpa air


Sebut saja dia Zul, Deo, dan Dimas. Mereka adalah beberapa temen gw yang kosannya selalu ramai dikunjungi oleh teman-teman. Bukan karena kos-kosannya  dingin atau apa, tapi memang kamar mereka memiliki suhu dibawah 20 derajat celcius. Cukup dingin untuk membekukan keringat mahasiswa teknik yang hanya melihat perempuan 2 hari seminggu. Kosan ber AC mereka selalu ramai didatangi teman-teman yang ingin belajar atau numpang dingin. Gw termasuk di dalamnya.

Banyak banget gw temuin orang aneh di dunia baru gw ini. Sejak SMA, gw yang ber-ekspektasi bakal ketemu dengan temen2 dengan bahasa jawa yang halus dan penuh tata karma, ternyata malah dihadapkan dengan kebalikannya. Perangai kasar dan kata-kata umpatan selalu keluar dari mulut mereka. Entah karena budaya bawaan pergaulan atau apa, tapi gw sedikit kecewa. Karena semua keluarga gw adalah jawa, dan gak ada satupun dari mereka yang ngomong kayak temen2 gw sekarang ini. tapi maklum mungkin, gw masih baru. 12 tahun di kota Hujan yang orang-orang nya kalem dan slow. Dengan perangai penduduk yang sesuai ekspektasi, gw sudah terbiasa. Ternyata gw memang ditakdirkan untuk belajar dan kuliah bersama orang-orang seperti ini.

galangan kapal kamar temen gw sebelum dipermak 

galangan kapal kamar temen gw setelah dipermak, FYI: dia SMA di Jakarta

Mereka yang mayoritas belum pernah mencium asapnya ibukota Jakarta, mereka yang mayoritas belum pernah melepaskan kakinya dari wilayah timur Jawa, dan mereka yang sangat suka mengomentari para pendatang dengan komentar yang seakan bilang “oh kayak gini toh orang sana”. Anomali banget. Selama gw SMP, temen2 gw gaul semua. Gw sendiri yang gak gaul. Kenapa gitu? Karena mereka memakai apparel yang didapat dari distro lokal, dan mereka menyanyikan lagu-lagu Pee Wee Gaskins yang pas jaman SMP itu sangat gaul. Tapi itu semua berubah manjadi norak dan alay saat gw masuk SMA. Gw yang gak ‘ngikutin jaman’ pas SMP itu gak serta merta jadi alay juga karena alay era sekarang adalah veteran gaul era sebelumnya. Gw gak gaul, jadi gw gak akan bermetamorfosis jadi alay. Setidaknya sampai lulus SMA. Hahaha.. itu yang gw perhatiin saat gw pertama kali menginjakkan kaki di kota Surabaya. Teman2 gw disini seperti teman2 gw dimasa SMP. Semua sesuatu yang dibilang gaul sama temen SMP dulu, masih dipake sama temen2 gw di kuliah sekarang ini. Gw jadi kaya abis naik mesin waktu gitu.

Gaya ber-sms mereka belum bisa dibilang normal. Mereka masih menggunakan singkatan-singkatan alay dan membutuhkan kinerja otak lebih untuk memahami makna dari sms yang diketik. sebagai orang baru, gw sering memperhatikan gelagat dan gerak-gerik orang yang akan belajar bersama gw ini. and some of them is out of date. Saat gw berkumpul dalam suatu forum yang mayoritasnya adalah orang-orang asli jawa timur, kondisinya selalu beku. Awkward gak jelas gitu. Saat gw mencoba member ice breaking biar gak sepi dan mencairkan suasana, gw malah dibilang alay karena lelucon gw itu. Hey tot, harap berkaca. Kadang suka gak ngaca, alay teriak alay. Nama facebook aja belom bener udah ngatain orang alay. Dandan masih kayak TKW hasil deportasi aja udah ngatain orang alay. Pakaian dan gaya rambut masih kaya pengamen Tanah Abang aja udah ngatain orang alay. Nampaknya gw juga jadi kebawa alay. Seperti teori gw, seseorang akan kebawa lingkungan dimana ia akan lama tinggal didalamnya.

lindungi aku dari budaya purba ini

Gw dan nyokap dateng kesini berdua untuk daftar ulang di ITS. Bokap gw lagi dinas keluar kota jadi belum bisa nemenin. Saat tiba waktu untuk bertemu dengan temen-temen baru gw, mulai keliatanlah kesenjangan antara orang yang dulu tinggal di lingkungan seperti gw dan orang lokal daerah sini. Dari cara berdiri aja udah beda. Saat mulai kenalan, cara ngomong, gaya bicara, gestur, mimik wajah, semua ketara beda banget. Pergaulan emang ternyata mempengaruhi. Gw pernah ngajak kenalan seorang mahasiswa baru pas lagi training ESQ di Graha. Dia kebetulan duduk disebelah gw, maka gw memulai pembicaraan dengan cara berkenalan. Dia bilang dia berasal dari sebuah pulau di timur Bali. Gw yang ngajak kenalan duluan, tapi responnya sangatlah buruk. Dia bahkan gak ngeliat mata gw. Dari percakapan itu, gw terus yang nanya dan dia cuma jawab maksimal 2 kata. Udah gitu mukanya datar sok serius gitu. Sombong parah.

Kampus gw memiliki asrama yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin tinggal di asrama. Asrama memiliki Penjaga yang terkenal killer. Dia punya peraturan yang melarang manusia selain penghuni asrama dilarang masuk ke dalam asrama. Kalo ketahuan, siap-siap ambil cuti 3 semester deh *lebay*. Dia tipikal laki-laki berumur 48an dengan rambut beruban. Selalu patroli ngelilingin asrama naik sepeda, memakai kemeja batik, dan membawa TOA. Tiap ada sesuatu yang mencurigakan selalu diteriakin pake TOA sampe bikin kaget. Tapi gw yakin dia orang baik. Lain hal, asrama memiliki jam malam. Diatas jam 11 malam, gerbang akan ditutup dan tidak boleh lagi ada yang keluar masuk. Tapi inti ceritanya bukan itu.

para mahasiswa baru lagi nunggu kegiatan maba berikutnya, kami menyebutnya baju panda : atasan putih, bawahan hitam


Lain ladang lain belalang. Ternyata yang dianggap keren di Jakarta malah dianggap alay di disini. Sebaliknya, semua gaya alay Jakarta yang sering kalian lihat di acara Dahsyat, ada semua live action di tempat gw kuliah.

Salah satu penjaga asrama pernah berkata di awal semester saat Mahasiswa Baru, baru masuk ke asrama, “anak Jakarta dan sekitarnya itu adalah anak yang bandel. Mereka selalu pulang larut malam. Beda sama anak jawa timur yang kalem, baik, dan gak pernah pulang larut”. Gw udah kenal semua temen dari semua daerah, dan gw gak setuju sama statement itu.

Karena sesungguhnya perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan. Hanya untuk dilihat, dinikmati, dipahami dan dihargai.


Salam ganteng,
Pentinggak.blogspot.com

READ MORE - Anomali Stereotip

Minggu, 02 Desember 2012

The Proposal


Buset bulan apa ini? Bulan Desember cuy… kemana aja tot? hampir lupa kalo gw punya blog. Maklum, selama SMA gw sibuk belajar belajar dan belajar. Dari dulu sampe SMA belajar mulu, kapan mainnya? Saking seringnya belajar, gw jadi pinter. Maaf ya para teman-teman yang gw kasih harapan palsu bahwa blog ini akan segera di update. Hahaha maaf lho ya. Tapi akhirnya gw update juga kan. Harap maklum, sejak pertama masuk kelas 3, SMA gw udah gencar memberikan intensif untuk Ujian Nasional + SNMPTN. Jadi gw yang notabene takut bgt gak lulus UN, selalu belajar rutin belajar sembari nyicil belajar juga untuk SNMPTN. Gw sama sekali gak punya bayangan tentang SNMPTN. Karena yang gw tau, itu Cuma ujian untuk bisa ketrima di suatu perguruan tinggi, doang. Selebihnya gw gak ngerti bahwa gak semua anak bisa lulus snmptn( -__-), gw kira Cuma ujian trus lulus. Gw kira Cuma beda tingkatan unversitasnya doang, trnyata ada yang bisa gak lulus snmptn.  Ditambah lagi “lulus UN” adalah pondasi dari segala kelanjutan hidup gw sebagai anak dari orang tua gw, kalo sampe gw gak lulus…langsung gw dipecat jadi anak.

Beberapa temen gw yang sering mampir kesini, atau beberapa lagi yang sering nyasar ke blog ini pas lagi nyari pengertian “pantat”, suka nanyain kapan blog gw update. Gw Cuma bisa jawab “iya nanti gw update”. Dan ternyata kata “nanti” itu maknanya sangat luas. Bisa besok, bisa lusa, bisa 5 tahun lagi, bisa pas kiamat, bisa pas udah di alam akhirat, bisa juga pas Pevita Pierce mencanangkan gerakan penanaman seribu pohon di Bundaran HI. Alhasil, blog gw 6 bulan vakum dan gaada posting. Pas jaman SMP kan sebulan gw bisa update 15 posting. Semakin tua umur ini, 15 bulan Cuma sempet satu posting. Sekali lagi ini semua gara-gara… gw sibuk belajar. Garis bawahi ya, sibuk belajar.

Disamping belajar, gw juga gabung ke dalam suatu sistem kepanitiaan. Semua berawal dari mading kelas gw sewaktu SMA. FYI, sekarang ini gw nulis posting di kosan gw di Surabaya. Ya. Sekarang gw udah kuliah. Gw kuliah di surabaya. Surabaya coy. Di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, disingkat ITS. Sebuah institut besar yang orang awan selalu mengira bahwa ITS itu adalah Institut Teknologi Surabaya. Termasuk gw. Gw dulu gak pernah kepikiran untuk masuk ITS. Bayangkan gw yang biasa tinggal di bogor ini, kota yang tiap sore hujan, kota yang kemanapun lu jalan pasti ada angkot, kota yang kalo mau nyebrang gampang tinggal angkat tangan ntar mobil2 pada ngalah, anak ganteng yang bercita-cita mulia ingin membahagiakan orangtua dengan lulus SMA, tiba-tiba harus sekolah di surabaya . Sebuah kota yang terbalik 156 derajat dari bogor. Gak pernah hujan, kemana-mana gak ada angkot, mau nyebrang jalan harus nunggu 20menit dulu biar nunggu jalanan sepi. Tapi apa daya semua sudah tertulis lengkap di Lauhul Mahfuz bahwa orang ganteng ini harus sekolah disini.

Back to topic.

Disamping belajar, gw juga gabung ke dalam suatu sistem kepanitiaan. Semua berawal dari mading kelas gw sewaktu SMA. Waktu itu gw masih awal-awal jadi senior di smansa. Gw seneng banget jadi senior. Tua. Mapan. Berkualitas. Punya KTP, punya SIM, dan punya buku “Biologi untuk kelas 3 SMA”. Hari pertama memang kelas gw bukan di kelas yang seharusnya milik anak tahun terakhir. Karena kelas aslinya lagi dipake untuk MOS para siswa baru yang masih bau wortel. Setelah mulai belajar di kelas yang seharusnya, kelas yang terletak di sepanjang koridor lantai satu, gw mulai dapet tempat duduk yang enak karena depan gw cewek cantik. Dia seorang model. Model iklan alat pemotong kuku. Rambutnya dicat coklat dan mukanya kayak pantat bayi : mulus-mulus terawat gitu.

Back to topic.

Disamping belajar, gw juga gabung ke dalam suatu sistem kepanitiaan. Semua berawal dari mading kelas gw sewaktu SMA. Mading itu terletak di depat pintu kelas gw. Jadi semua anak yang masuk atau keluar dari kelas pasti akan melihat mading itu. Saat itu madingnya lagi rame dan gw penasaran. Pas gw liat, ada pamflet baru yang terpasang disitu. Pamflet itu milik sebuah ekstrakulikuler di Smansa yang berkecimpung di dunia keislaman.  Gw menghayati gambarnya dan mencerna apa maksud dari gambar itu. Disitu ada gambar tangan kanan yang membentuk huruf L. Persis seperti yang ada di logonya film Glee. Pas gw lihat lagi, gambar tangan itu membentuk sebuah kalimat tanya : “GALAU?”. Jadi tangan kanan itu berfungsi sebagai pengganti huruf L dalam kata “galau”. Tiap anak yang lihat pamflet itu pasti tersenyum karena kata “galau” memang lagi booming di sekolah gw pada saat itu.

Setelah beberapa lama menghayati pamflet itu, gw jadi tertarik dengan isinya. Jadi inti dari pamphlet itu adalah ajakan untuk para siswa muslim tahun  terakhir di Smansa Bogor untuk gabung dalam kepanitiaan sebuah acara pengembangan rohani islam. Acaranya bernama OASE 2012 dan ditujukan buat para adik-adik kelas 2 yang notabene belum mengerti banget tentang agama mereka. Yang mereka tahu hanyalah bioskop XXI dan starbucks coffee.

Dalam sistem kepanitiaan di acara itu, gw bergerak dalam seksi dana usaha dan keuangan. Jadi semua acara ini gak akan berjalan kalo seksi gw gak kerja. Alhasil, kalo acaranya gak jalan maka gw jugalah yang akan disalahkan. Untungnya gw bukan koordinator, gw cuma anggota aktif ganteng yang penuh kontribusi dan berkharisma tinggi. Koordinatornya adalah temen gw yang sewaktu gw kelas 1 sma, dia kelas 2 sma. Tapi karena dia di deportasi dari Indonesia dan harus menjalani pendidikan di Amerika selama setahun karena mendapatkan beasiswa AFS, maka ia pun turun kelas dan menjadi satu angkatan sama gw. Dia perempuan bernama Jihan yang sangat aktif dalam organisasi.  Sampe-sampe isi tasnya gak ada buku pelajaran, cuma buku catatan keuangan OSIS dan beberapa lembar proposal untuk pengajuan acara.

Dalam bekerja, gw tidak pernah menyerah. Gw yang dulu sehabis pulang sekolah selalu ambil tas dan cabut ke toko sepeda, sekarang sudah tidak lagi karena gw harus ngambil2in uang dari kelas-kelas. Yap, paginya gw udah naro makanan kecil untuk dijual sebagai salahsatu proker gw yang notabene mengharuskan gw menghasilkan uang untuk kelancaran acaranya nanti. Hal yang paling asik dari pekerjaan ini adalah saat paginya gw kebagian membagikan sekotak makanan untuk dijual ke ruang-ruang kelas adek kelas. Asiknya itu lho.. melihat adek-adek gw yang cantik penuh potensi dan harapan. Naluri kegantengan gw selalu mendorong gw untuk mengajak berkenalan dengan para adek kelas cantik itu dengan berbagai modus. Itu sangat seru. Tapi niat utamanya tetep untuk mencari uang halal demi berjalannya acara OASE 2012. Semua uang terkumpul dan gw siap menyetorkannya kepada koordinator Jihan.

Saat lagi bertugas, gw selalu ditemani salah satu temen gw yang sekarang satu fakultas sama gw di ITS. Dia temen gw sejak awal masuk SMA dan menemani gw bekerja karena kita tergabung dalam satu seksi : Seksi Dansos. Namanya adalah agung bimo wicaksono. Gw gak ngerti kenapa ada orang yang nama depannya Agung dan nama blakangnya Wicaksono. Gw gak tahu apa hubungannya tapi gw yakin ada benang merah diantara semua ini. Sampai suatu waktu tugas besar pun datang. Acara sudah mendekati tanggalnya dan uang yang didapat dari berjualan tidak mencukupi. Maka turunlah perintah dari koordinator bahwa kita berdua harus mencari sponsor ke tempat-tempat yang sekiranya bisa memberikan kita dana demi berjalannya acara OASE 2012 (sakali)

Selasa, 3 Januari 2012. Pagi itu sangat cerah dan gw belum juga mandi. Gw males banget keluar rumah, tapi rasa tanggung jawab sebagai panitia ganteng ini sulit untuk dilawan. Jadi gw pun mandi. Hari itu adalah minggu-minggu liburan, jadi gw gak ada jadwal sekolah. Acara OASE 2012 masih akan dilaksanakan tanggal 22 januari (atau kapan ya? gw agak lupa). Supaya gak mepet, maka gw pun minta si agung untuk menjemput gw ke rumah gw di kawasan bogor untuk kita jalan2 bareng mengantarkan proposal-proposal yang sudah di-printkan sama koordinator Jihan. Sebelum berangkat, temen gw yang sekarang sudah kuliah di salah satu universitas berwarna kuning di kawasan Depok (namanya Taufik) nelpon gw, mau pinjem pompa buat sepedanya. Karena kita sesama pesepeda ganteng, maka gw bawain pompanya ke rumah taufik dengan di boncengin si agung. Kita bermotor dengan gw memegang pompa sepeda. Sebenernya, gw sama agung belum dapet perintah dari koor Jihan kemana aja kita harus pergi. Jadi kita Cuma bawa proposal dengan tanpa tujuan. Makanya kita ke rumah Taufik sekalian nanya2 dia soal tempat-tempat mana aja yang bisa dimintain supaya jadi sponsor. FYI, denger-denger doi sering nyari sponsor juga.

Sesampainya di rumah taufik, gw kasih pompanya dan minta informasi tentang lokasi mana aja yang biasa jadi sponsor buat acara-acaranya Smansa Bogor. Ternyata dia gak tau juga, dia bilang lupa atau apa gitu. Pokoknya kita pulang hanya dgn tangan kosong. Maksudnya dengan tangan memegang pompa sepeda. Gw sama agung ke rumah gw lagi untuk naro pompa dan kita pun lanjut ke arah kota bogor untuk menyebar sponsor sambil nunggu perintah berikutnya dari Koor Jihan. Setelah 4 menit berjalan dengan motor keluar komplek, sms masuk ke hape gw dan agung. Memerintahkan kita untuk mengantarkan proposalnya ke bimbel NF, PG, dan restoran Mangiare. Okesip, gw tau semua yang ada dalam sms itu kecuali restoran bernama Mangiare. Gw udah makan di semua restoran mahal dan murah di Bogor kecuali yang satu itu: Mangiare. Agung pun sama-sama gak tau. Jadilah kita, sepasang pelajar SMA tanpa arah dan tujuan dengan Honda Vario biru berstiker “Universitas Indonesia”.

Untuk amannya, kita sambangin dulu NF sama PG. Kita serahin proposalnya, kita jelasin bahwa kita dari smansa bogor mau ngadain sebuah acara dan mengajak bimbel-bimbel itu untuk menjadi  sponsornya. semuanya enak diajak ngomong, cuman orang yang berwenang untuk ngurus yang gitu2 selalu lagi gak ada. Alhasil kita harus ninggalin aja proposalnya dan nunggu persetujuannya via telepon. Itu sama kayak digantung bro, rasanya galau. Galau. Fix galau.

Setelah 2 jam berkeliling kota bogor, kita istirahat bentar sambil nunggu sms lagi dari Koor Jihan. Sambil nunggu kita tetep memikirkan dimana kira-kira restoran bernama Mangiare itu berada. SMS pun masuk dan kita dikasih tau bahwa restoran itu berada di deket SMA negeri 3. Kita segera meluncur kesana dengan kecepatan cahaya. Sesampainya di depan SMA negeri 3, kita bingung lagi dimanakah letak restoran itu. Setelah muter-muter sepanjang jalan depan smanti itu, akhirnya kita menyerah dan bertanya pada seorang juru parkir yang lagi duduk deket situ. Gw yang gak tau apa2 Cuma duduk di motor sementara agung turun dari motor dan nanya ke juru parkir itu. Sambil menunggu, gw merasa aneh dengan bangunan putih tempat juru parkir itu bekerja. Bentuknya aneh dan gak asing bagi gw. Lalu agung pun balik ke gw dengan nyengir aneh. Ternyata bangunan putih itu adalah rstoran yang kita cari. Okesip.

Saat masuk, gw merasa gak yakin apakah restoran seperti ini pantas untuk dijadikan sponsor sebuah acara kerohanian. Hmm, agung nyelonong masuk dan ngomong sama resepsionisnya. Setelah ber-birokrasi agak lama, akhirnya kisah berakhir sama : proposalnya ditinggal dan nunggu persetujuannya via telepon. Kita capek dan melesat dengan kecepatan cahaya lagi ke arah mall terdekat.

Gw agak males kalo main ke mall, karena pasti ketemunya sama temen2 satu skolah lagi. Ada banyak mall di bogor dan yang gw ketemuin selalu temen2 gw lagi. Kan aku mau lihat pemandangan yang baru. Tapi apa daya, masa gw harus jauh-jauh ke Yogyakarta hanya untuk ke Ambarukmo Plaza supaya gak ketemu temen di mall? Selanjutnya pas masuk ke dalem mall deket situ, passss orang pertama yang berpapasan sama gw adalah temen sekelas gw sendiri. Namanya Raina dan dikelas dia dipanggil ee. Dalam bahasa sunda, “ee” artinya boker atau buang air besar. Gw gak ngerti lagi kenapa dia mau dipanggil ee. Mungkin karena nama lengkapnya Raina Dayana Ermaya..hahahah  Dua menit kemudian gw udah ada di lantai 2 dan melihat ke bawah. Lagi. Gw mendapati temen gw bernama Lukman lagi jalan sendirian keluar dari toko buku. Yap, dunia ini sempit. Lukman adalah laki-laki paskibra dengan rambut afro dan berkacamata agak tebal. Orang berkacamata biasanya disebut “bermata empat”. Lain halnya dengan lukman yang sudah berkacamata tetep aja dijuluki “bermata dua”. Kenapa? Karena kalo dia lepas kacamata, mata aslinya pasti ilang. Kalo gw bilang ilang, ya ilang. Saking sipitnya jadi ilang. Dia terlihat seperti hasil persilangan antara orang amerika latin dengan orang china. Rambutnya juga waterproof, kalo kita berenang bareng temen2, hanya rambutnya doang yang gak basah padahal kita smua sama-sama menyelam. Walaupun begitu, dia juga sahabat gw sejak kelas 3 SD. Ciyusan. Miapa? Miabi.

Kita bertiga ngegabung dan jalan bareng di mall. Sangat mainstream. Tiga jomblo ganteng yang berjalan menyusuri mall untuk mencari makan sore. Denger-denger ada kios burgerking baru dibuka deket situ, kita pun kesitu. Masuk dan menghirup udara fast food yang khas. Dan seperti biasa, lukman minta dibayarin agung karena doi gak bawa uang. Emang dasar. Enak banget makan burger king gratis. Gw aja bayar sendiri. Hahaha…

Dalam obrolan orang (hampir) dewasa itu, kita membahas prospek hidup kita untuk esok hari. Karena masih dalam suasana liburan yang ganteng, maka kita bertiga berencana untuk mengasah kemampuan betis kita dalam menjelajah kota bogor yang segar ini. Jadi besoknya kita berencana untuk sepedahan bareng. Berhubung sepeda gw masih dalam tahap perakitan, maka malam ini sepedahnya bakal gw selesein supaya bisa dipake touring. Obrolan pun semakin seru sembari ngeliatin cewek-cewek cantik yang lewat disamping meja kami sambil menggandeng monyetnya. Hahaha….

The Proposal Snapshots


kaum barbar makan kentang goreng

ketika cinta bertasbih

nampan nan elok

buset itu muka, atau brad pitt?

kaum barbar selesai makan

terjemahan: dilarang parkir didepan pagar
dokumentasinya cuman sisa makanan, maklum masih SMA


Salam ganteng,
-harisdarko-
pentinggak.blogspot.com


READ MORE - The Proposal

Sabtu, 31 Maret 2012

Diatas Plafon, Dibawah Tekanan

Untuk seorang remaja SMU normal yang gak punya blog mungkin posting blog adalah sesuatu yang buang-buang waktu ato sekedar pelampiasan nafsu galau. Tapi bagi gw, itu memang benar. Eh salah. Maksudnya posting blog gak sekedar nulis ngelawak terus ditebitin gitu aja. Butuh sebuah pemahaman mengenai konsep kalkulus dasar yang mempengaruhi kurva pengeluaran pangsa pasar saham terhadap perkembangan trend fixie di Kazakhstan. Nah itu maksud gw, gak gampang nulis di blog. Salah-salah, lu bisa jadi terkenal kayak gw sekarang. Terkenal sebagai juragan joki 3in1.

Semua temen-temen gw nanya ke gw, “Ris, blognya di-update dong”. Gw Cuma jawab, “udah kok tuh”. Padahal belum. Gw bingung banget bagi waktu antara ngetik blog sama belajar. Pasalnya, gw sekarang ini udah kelas tiga SMA dan kelas 3 SMA yang gw kira bakal keren, ganteng, santai, dan aduhai itu ternyata berkebalikan 270 derajat dari ekspektasi gw. Di kelas tiga, semua hobi gw mau gak mau harus dikurangi atau dihilangkan dari jadwal dan harus diganti dengan belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-bejalar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar- belajar-belajar-belajar-belajar-dan mati…

(percaya atau tidak, ada satu kata yang ngaco dalam rantai “belajar” diatas)

Sebenernya gak harus belajar se-serius itu kalo materi palajarannya udah pada ngerti. Masalahnya adalah, saat kelas 1 dan 2 gw sering mengabaikan pelajaran. Jadi kalo gak ngerti materi di kelas maka gw tutup buku lalu tidur, berharap mimpi sedang belajar dan bisa ngerjain soal kalkulus lanjutan tingkat universitas. Gw udah niat untuk bertanya pas pulang sekolah kepada temen ato guru bersangkutan untuk minta penjelasan mengenai materi yang gw gak ngerti. Tapi apa daya bagai ayam merindukan Anisa Cherybelle, gw adalah procrastinator sejati. Jadi gw tunda-tunda terus sampe nasi telah menjadi bubur ayam. Gw sekarang sudah kelas 3 dan mau tak mau harus menyelesaikan apa yang sudah gw mulai sejak gw pertama masuk ke SMA negeri terkeren sepanjang jalan kenangan ini. Gue hampir aja keteteran karena ada beberapa pelajaran kelas 1 dan 2 yang gw sama sekali gangerti. Ibarat dengkul, otak gw serasa kopong. Hanya berisi H2O dan beberapa butir orange pulp.

Gw takut banget gak lulus SMA. Semua anak SMA pasti punya rasa takut akan hal itu. Makanya gw berusaha mencari beberapa sumber pencerahan untuk memotivasi gw, bahwa gw bisa lulus dari SMA, dapet universitas yang bagus, punya kerjaan layak dengan gaji tinggi, menikah dengan wanita yang layak, membahagiakan ortu, dan mati dengan tenang sambil mengucap syahadat. Buset, hidup gw udah terarah banget. Dan gw ikutilah setiap ada “seminar” oleh kakak-kakak kelas yang mengadakan forum. Entah itu mereka yang promosi universitas ke dalem kelas gw maupun ikutan ngobrol di masjid sama alumni yang punya pengalaman seru. Semua yang mereka omongin terdengar seru di telinga gw. Karena hal yang mereka ceritakan belum pernah gw alami. Dengan motivasi kayak gitu, semangat belajar gw naik drastis sampe nembus plafon. Masalahnya adalah, motivasi ini sudah penuh di otak tapi rasa males dan godaan selalu aja ada di otak. Seakan mereka itu adalah para pedagang kaki lima yang udah digusur berkali-kali tapi masih juga balik lagi. Tapi dengan berpegang teguh pada iming-iming masa depan cerah dan hidup enak, gw korbankan beberapa teman gw untuk jadi tumbal dewa matahari. Gw korbankan beberapaa waktu gw untuk belajar dan mengingat kembali pelajaran kelas 1 dan 2 dan 3 yang padahal tiap pelajaran cuma 20 bab doang tapi rasanya kayak ngapalin Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 1998-2011.

Temen-temen gw di kelas adalah anak2 yang sangat labil, dulu mereka sangat kalem dan ada yang slengean. Belakangan ini mereka berubah 184 derajat menjadi rajin belajar. Tiap ada waktu senggang, mereka mengeluarkan dan membaca buku-buku tebal yang judulnya aneh-aneh : “Jurus Jitu Menghadapi SNMPTN” ; “Fokus UN 2012” ; “Belajar MIPA Sistem Kebut Semalam : InsyaAllah Best Seller Bisa Dibaca di Angkot Di Mall dan Di Jalan” ; “Ciamik Rangkuman Matematika Lengkap” ; sampe yang berjudul “Siap Lulus UN 2012, Kalo Gak Lulus Jaminan Uang Kembali”. Tekad mereka sangat kuat untuk bisa lulus UN SMA dan SNMPTN tulis. Karna gw anak yang gaul dan mengikuti perkembangan zaman, maka gw juga rajin belajar. Semua buku gw beli. Dari yang murah sampe yang murah banget gw beli. Setelah itu cuma gw tumpuk di kamar sebagai pajangan. Niatnya sih mau namatin semuanya. Tapi apa daya, capek banget ngerjain 1001 soal pelajaran matematika. Satu kelar, masih ada 1000 soal. Lima soal kelar, masih ada 996 soal lagi. Keburu umur 25 atuh bro.

Berhubung gw juga udah mau lulus, temen2 gw ngajakin untuk bikin film documenter sebagai kenang-kenangan kita saat sudah lulus SMA. Cuma diajak. Isinya tentang kehidupan dan kenistaan kita-kita saat masih duduk di kursi SMA (berbahan karbon yang sangat mahal merek Chitose itu). Dari yang keren sampe yang keren banget. Dari yang lucu sampe yang gak lucu, ada semua. Saat temen lagi tidur dengan posisi orang naik motor pas pelajaran Biologi. Ada juga saat temen nyuci piring di wastafel sekolah Internasional. Ada juga rekaman staff cleaning service kelas yang kalo ngebersihin kelas paling suka banting-banting kursi dan membuang apa saja benda asing yang tidak ada dalam daftar inventari kelas. Sampe cinta-cintaan anak SMA yang malesin. Kenapa malesin? Karena gw lagi gapunya pacar. Temen2 gw ajak nyari pacar malah dikira gw becanda. Homo sih mereka, kelamaan hidup di terowongan.

Tuh film jatohnya jadi kayak film Catatan Akhir Sekolah ya.. biarin lah namanya juga usaha.

Alih topik, bulan januari 2012 rambut gw gondrong sampe hidung. Bagi beberapa orang, gondrong sampe hidung itu biasa aja. Tapi bagi gw, itu udah panjang banget. Gw gapernah punya rambut sepanjang itu kecuali pas masih kecil rambut gw panjang sampe ngelebihin dengkul (saat sedang sujud). Kalo ketemu gw sih rambut keliatan biasa aja. Karena rambut gw yang kriting ini bakal mrungkel jadi gak keliatan gondrongnya. Tapi begitu ditarik, beuts… mata gw ketutupan rambut semua. Pas razia rambut pelajaran PKN, rambut gw kena cukur di bagian kuping. Hasilnya jelek banget kayak rumput liar salah potong. Belum lagi nyokap gw yang protes karena rambut gw terlihat jelek kalo dirumah. Senin 20 februari gw cukur rambut. Dadah poniku. Padahal dulu kalo denger musik keras, poni itu suka gerak-gerak sendiri. Sekarang setelah dicukur sudah tidak lagi.



before cukur (kalo bagian depannya ditarik, panjangnya ngelebihin idung)



after cukur, pendek banget kan?

--------------------------------------

Yah, memang begitulah keadaannya. Gw gabisa tiap hari ngetik blog. Padahal pas jaman SMP hampir tiap pulang sekolah gw duduk depan laptop langsung ngetik apa aja yang ada dalam pikiran. Sekarang udah gak bisa seenak itu lagi. Tapi jangan kecewa, gw punya banyak cerita seru untuk di-share disini. Semuanya udah ada outline-nya, tinggal diketik terus posting deh.

Meaningless ya...

Gak selamanya hidup lu kecil terus. Ada kalanya tumbuh dewasa dan ngurus hal lain yang gak diurus oleh anak kecil. Gak selamanya punya banyak waktu senggang yang berharga. Selagi ada, manfaatkanlah dengan bijak. Kalo udah sempit kayak gw gini, rasanya kayak kejepit di lubang jarum dan susah keluar.

Gw sendiri bingung daritadi ngetik apaan.

Akhir kata, saya Harisuddin Hawali...

salam iwak peyek
pentinggak.blogspot.com
READ MORE - Diatas Plafon, Dibawah Tekanan

Sabtu, 31 Desember 2011

Setengah Jam Lagi

Halo kerabat pentinggak. Mohon maaf lahir bathin atas khilafnya blogger (hampir) murtad ini. Udah 3 bulan gak nulis di blog. Serasa punya mobil Lamborghini Gallardo di garasi dan 3 bulan gak pernah disentuh sama sekali. Live update : gua belum juga punya laptop, jadi ngetik blog cuma sesekali kalo ada laptop bokap di tangan. Sekalinya bokap minjemin laptop, selalu aja yang dibuka bukan Ms. Word, malah setel musik atau video sambil edit beberapa video After Effect yang gak selese-selese. Jadi aja begini, blog gak keurus.

Dua bulan belakangan juga gw sibuk dengan buku pelajaran kelas 12 yang tebalnya gak seberapa tapi memahami isinya lebih sulit dari mengendarai sepeda fixie. Di kelas gw merhatiin guru nerangin pelajaran hampir ngerti, cuma karena bel berbunyi tiba-tiba semangat belajar langsung ambrol. Harusnya pelajaran di baca lagi dirumah, sampe rumah malah tidur siang sampe jam 7 malem. Hal yang sangat bodoh memang, tapi udah mulai berkurang sejak pembagian rapot. Gw ranking *ehm* di kelas. Gak terlalu bagus untuk ukuran anak remaja yang bercita-cita menjadi seorang dokter kandungan.  Tapi cukup member harapan untuk ikut SNMPTN undangan di Teknik Geologi UGM Yogyakarta. Sebenernya nilai gw tuh bagus semua, gak ada nilai yang dibawah 80 sama sekali. Cuman… ya itu, semua temen-temen gw yang usaha menjilat gurunya patut diacungi jempol kaki. Mereka sebenernya  tahu nilai mereka di rapot untuk mata pelajaran tertentu adalah 97. Cuman, karena ingin nilai setinggi bintang di langit, mereka menjilat-jilat guru dengan minta pekerjaan tambahan padahal gak perlu-perlu amat. Gw gak protes dengan “menjilat guru” nya, yang gw protes adalah… heylooo… apakah nilai 97 itu masih kurang untukmu nak?

FYI, gw melebih-lebihkan cerita gw diatas.

Tapi apa boleh buat, Dian Sastro sudah hamil. Dan rapot gw sudah ada ditangan. Nilainya memuaskan walaupun kurang menenangkan.

Sekarang tanggal 31 Desember 2011 dan gw berencana menginap di rumah temen gw. Niat berangkat jam 3 sore tapi malah diajak ortu ke Museum Satriamandala karena adek gw belum pernah kesono. Yaudah gw ikut. Sampe sono, ternyata museumnya tutup.

Mobil kita malah melaju kearah bandara Soekarno-Hatta. Entah kenapa kita sekeluarga malah muter-muter bandara dari terminal 1 sampe terminal 3 tanpa arah dan tujuan. Padahal sesungguhnya gw minta diajarin bokap caranya untuk kabur keluar negeri. Dari mulai check in sampe departure ke penerbangan luar dan dalam negeri. 


Gara-gara itu semua, gw gajadi keluar rumah karena udah kemaleman dan diluar penuh dengan ledakan mesiu 20ribuan.  Padahal lumayan sepedahan malem-malem dibawah guyuran hujan serbuk mesiu. Dan gw udah mulai pusing mau nulis apa lagi. Gimana enggak, abis makan gw bolak-balik ruang TV – dapur – ruang TV – dapur lagi untuk ngambil cemilan dan ngetik posting ini… belum lagi ada si Limbad di TV yang dianya dikubur di dalem cor beton.

Ya sudahlah, semoga saja kekurangan gw di 2011 bisa semakin hilang dan kelebihan serta potensi gw bisa semakin nongol di tahun 2012. Harapan gw apabanget ya…
Tapi yaa begitulah… tolong doain gw ya supaya keterima di Teknik Geologi UGM Yogyakarta. Semoga yang doain gw rezekinya lancar, lebih lancar dari tol Cipularang di malam Tahun Baru…

Setengah Jam Lagi... Tahun 2012

BONUS : foto bareng kucing sombong (liat sini dong puss...)

Salam ganteng,
-harisdarko-
Pentinggak.blogspot.com
READ MORE - Setengah Jam Lagi

Minggu, 04 September 2011

Minggu Pertama di Kelas Tiga


Setelah menunggu selama 12 tahun, akhirnya gw resmi menyandang predikat sebagai anak kelas 3 SMA. Dan hal-hal menyenangkan yang dulu gw bayangin kalo jadi anak kelas tiga SMA, ternyata pas udah ngalamin malah biasa aja. Dulu gw liat anak kelas 3 SMA itu keren, celananya abu-abu, bawa motor sambit kebut-kebutan, punya SIM dan KTP, dan rambutnya gondrong. Semua itu udah gw lakuin dan rasanya ternyata gak seperti yang gw kira. Kirain kayak nge-fly abis ngirup narkoba gitu, ternyata ya udah gitu doang. Celana gw udah abu2, bawa motor kebut-kebutan : udah pernah, gacul mobil bokap : udah, SIM dan KTP : udah punya, pacaran udah pernah, rambut gondrong juga udah. Dan semua itu gak lantas bikin gw merasa senang dan puas. Kayak masih ada target lain yang gw gak tau apa itu. Horror banget.

Ngomong-ngomong, gw sekarang udah kelas 3 SMA (sakali). Tahun sbelumnya gw udah ada progress dalam hal belajar. Yang waktu kelas 1 gw suka gak merhatiin pelajaran karena ngobrol sama temen, kelas 2 jadi lebih mendingan. Pelajaran gw ngerti semua, karena temen sebangku gw yang kalo diitung-itung, level otaknya tuh hampir setara sama gw. Jadi kalo ada pelajaran, dia merhatiin dan gw juga merhatiin. Dan nilai rapot gw naik semua…

Hari pertama masuk sekolah pada 18 Juli 2011, gw berangkat dengan terburu-buru karena gw bangun kesiangan. Sesampainya di gerbang skolah, semua anak kelas 2 dan kelas 3 lagi pada ngumpul di lapangan dan gak masuk ke dalem skolah karena di dalem lagi ada MOPDB. Sekedar info, mulai tahun ini kayaknya istilah MOS atau Masa Orientasi Siswa bakal dihilangkan dan diganti dengan MOPDB (Masa Orientasi Peserta Didik Baru). Entah karena kebetulan atau apa, tapi kepala SMP gw dulu pernah pidato kalo sekolah seharusnya tidak menyebut kita-kita sebagai “siswa”, karena “siswa” itu artinya bodoh. Beliau lebih seneng nyebut kita dengan istilah “peserta didik”, karena lebih tepat menggambarkan peran kita di sekolah : sebagai peserta didik. Dan bener aja, MOS ganti nama jadi MOPDB. Kirain MOPDB itu adalah semacam merek obat kumur.

Sesampainya di lapangan sekolah, yang pertama gw cari adalah temen-temen gw. Entah kenapa jalan diantara orang-orang yang gak lu kenal itu bagaikan kecebur sungai dan gak ada yang nolongin. Ngalir gitu aja, teriak-teriak dan gak ada yang tau. Makanya gw nyari orang yang gw kenal untuk di ajak ngobrol. Dan gw mengenal salah satu wajah yang sudah tidak asing. Begitu dia ngeliat gw, dia langsung nyanyi di depan gw dengan gaya 70an, “forever young…. I want to be forever young….”. what the… ngapain lu? Ternyata dia nyanyi untuk ngomentarin penampilan gw yang semakin mundur ke tahun 70an. Di matanya, gw keliatan semakin bapuk dengan muka datar dan rambut gondrong jambul khas tokoh Lupus karya Hilman. Buat yang gak tau, itu adalah syair dari lagu Forever Young yang dipopulerkan oleh Alphaville. Lagu ini nge-trend pas abad 20. Dan menurut temen gw, harisuddin ini terlihat seperti anak 70an terjebak masa lalu.

*********************************************************************************






Begini ceritanya…. liburan adalah waktu yang pas bagi cowok untuk manjangin rambut. Biasanya kan gak akan bisa bikin rambut gondrong karena terikat peraturan sekolah. Dan awal liburan gw udah merencanakan untuk tidak memangkas rambut sampe masuk skolah. Tapi seminggu berlalu sejak awal libur dan rambut gw makin liar. Gw sih ngarepnya rambut ikal gw ini bakal jadi kribo keren kayak Giring Nidji, tapi apa daya setelah gondrong malah jadi lepek kayak anak SMP abis kehujanan. Kribo enggak, malah jadi kayak gelandangan gak pernah ngurus rambut. Maka gw memutuskan untuk cukur rambut tapi dengan gaya yang berbeda. Gw udah sayang banget sama rambut bagian atas gw, dan lagi kalo ada razia rambut di sekolah…. bagian pertama yang diliat adalah bagian cambang deket kuping. Makanya gw mau cukur rambut untuk ngerapihin pinggirannya aja.

Sesampainya di tukang cukur, gw bilang ke abangnya kalo gw mau pinggirannya aja yang dicukur. 10 menit berlalu dan gw melek secara perlahan untuk mendapatkan kesan dramatis. Doeeng….. rambut gw sangat rapih di bagian pinggir, tapi atasnya malah utuh. Jadilah rambut gw kayak anak schizophrenia. Mikir bentar dan gw biarin aja ni rambut kayak gini. Mumpung liburan, alay dikit gapapa. Pas udah masuk sekolah, otomatis rambut samping jadi normal dan rambut atasnya jadi gondrong parah. Alhasil, rambut keriting ini tak kenal kompromi, kalo orang rambut lurus poninya panjang jadi keren sementara gw poni panjang malah jadi jambul gak jelas. Mirip sanggul yang salah pake didepan.

*********************************************************************************
Kembali ke topik...

Semua anak pada masuk ke sekolah dengan belum punya kelas. Jadi cuman ngobrol sama temen lama doang. Lagi2 gw ketemu sama temen gw dan dia heran. “kayak ada yang beda ya dari lu ris.”, kata dia. Apa yang beda sih? Ternyata rambut lagi. Jadi sekarang semua temen yang gw sapa selalu ngeliat rambut gw dulu. Mereka bilang ada yg beda dari rambut gw. IYE, JAMBUL 70an…! Padahal kalo gw ngaca, gak jambul-jambul amat sih. Rambut gw cuman ikal doang depannya, kalo ditarik sampe lurus palingan ngelebihin idung. Just it.

Semua orang udah gw ajak ngobrol. Kita digiring lagi keluar sekolah untuk ke lapangan dan menerima pengumuman kelas. Sebelum guru gw mengumumkan pembagian kelas, temen gw sewaktu kelas 1 nyamperin gw dan dia bilang, “ris kita sekelas”. Hah? Kok dia udah tahu? Masa dia mendahului Tuhan? Gw aja belum tau. Ternyata dia udah ada bocoran. Semoga aja itu semua gak bener, masa gw sekelas lagi sama temen yang sama? Gw mau temen baru, sayang… temen baru!

Setelah 15 menit, guru didepan altar ngomong, “sekarang kelas 12 IPA 4 : bla bla bla bla…. Harisuddin Hawali… bla blabla “. Yak, saya masuk kelas 12 IPA 4 dan tak ada yang bisa menghalangi saya. Dan gw sekelas lagi sama beberapa temen gw yang gw kenal. Welcome to the Jungle. Temen baru, suasana baru. Disamping banyak temen lama yang gw kenal, juga gak dikit anak-anak yang biasanya cuman papasan doang tapi sekarang malah sekelas. Gw suka temen baru. Mmmuaach….

Pas masuk ke kelas baru dilantai 3, ada satu anak yang dominan bernama MDV. Dia emang dominan. Kalo kamu bingung nyari dia di antara kerumunan penonton Java Rockin’ Land 2011, tinggal liat dengan jeli aja pasti ketemu. Dan saking dominannya, dia ngomong apa aja pasti temen-temen pada ketawa. Ibarat kata dia nyapa dengan bilang “hai”, pasti lawan bicaranya ketawa. Entah karena lucu atau apa, satu yang pasti…. gw anggap dia sangat dominan di kelas. Saat pertama masuk kelas, belum ada kegiatan belajar dan kelas masih berantakan karena bekas ada penambahan inventari kelas. Semuanya lagi pada sunyi, lagi pada nyari tempat duduk yang tepat, lagi pada ngobrol dengan tenang, tiba-tiba MDV masuk kelas dengan brutal dan teriak dengan suara lantang, “Selamat datang, di kelas tanpa Tuhan!!!!”.

Denah Tempat Duduk


Pendidik Adek Kelas :
- wajah rada kucel karena dateng ke sekolah jam 5 pagi (harus lebih pagi dari anak yang lagi MOPD) ;
- pembicaraan sudah menjauh dari proposal, dikarenakan sudah kelas 3 ;
- sisa-sisa peradaban regenerasi kelas X dan XI ;
- mendidik adek kelas dengan tegas dan tanpa ampun ;
- pas minggu-minggu MOPDB, pagi dan siang kerjaannya "marah-marahin" adek kelas (tujuannya baik kok) ;
- motto hidup pas sedang bertugas memarahi: NO SMILE TO FRESH-MAN . (arti : tiada senyum untuk adek kelas)

Sahibul Blackberry :
- beberapa orang termasuk kasta tinggi di sekolah ;
- B-4 : berponi, berbehel, Blackberry, bau ;
- kalo ketemu temen baru pertanyaan pertama yang dilontarkan adalah : "eh, minta PIN lo dong?" ;
- tiap 10 detik ngecek hape, apakah ada message baru atau tidak ;
- megang hapenya pake dua tangan. Jempol bermain, lalu tekan enter ;
- distribusi jawaban ulangan lewat blackberry messenger (BBM) ;
- akun twitternya penuh dengan 'kicauan' ;
- gallery gambarnya penuh dengan gambar-gambar hasil dari aplikasi Capture It! .
- ini denah pertanggal 25 Juli 2011. Sekarang hampir semuanya adalah sahibul Blackberry, dimana pengguna nokia kaya gw ini semakin berkurang dan hampir punah. Kami pantas dilindungi oleh negara.

Kaum Terdepan :
- suka duduk di depan ;
- suka belajar lebih banyak dari yang lain ;
- rata-rata rapot 4 semester lebih dari 84 ;
- target universitas PASTI UI, IPB, atau ITB ;
- jumlah buku yang dibawa melebihi jumlah mata pelajaran hari itu ;
- semua alat tulisnya dinamain supaya gak dicuri ;
- saat guru bertanya, mereka-merekalah yang mengangkat tangan terlebih dahulu ;
- mereka pernah merasakan bangku olimpiade tingkat nasional .

Kaum Independen :
- mereka punya dunia sendiri ;
- gamer online abadi ;
- football freak ;
- suka ngelawak ;
- suka ditindas ;
- merdeka dari jeratan Blackberry ;
- low brain level profile ;
- tak banyak tingkah, tak banyak cakap.


Seisi kelas langsung chaos dan pada ketawa semuanya. Aneh banget dah, anak “atheis” ini bener-bener tau cara mencairkan suasana. Tapi dia gak beneran atheis kok, itu cuma bercanda dan cukup memberikan kesan pertama pada gw : dia gila.

Suasana kelas baru ini bener-bener beda sama kelas gw sebelumnya. Kalo belajar selalu serius tanpa satu orang pun ngobrol. Entah karena emang pada serius atau Karen udah kelas 3 dan gak pengen keteteran, tapi gw suka kelas kayak gini. Belum lagi posisi bangku disini yang mulai tahun pelajaran ini tiap peserta didik harus duduk sendirian. Beda banget lah sama kehidupan gw 2 tahun kebelakang yang kalo nengok ke kiri selalu ada muka temen gw. Kalo tahun ini nengok ke kiri ato ke kanan pasti ada temen, cuman jaraknya lebih jauh. Duduk sendirian kayak gini enaknya Cuma kalo istirahat doang. Pas belajar gak enak, kalo mau nanya-nanya jadi susah harus jalan nyamperin. Dan lagi karena duduk sendirian otomatis yang biasanya ada 4 barisan sekarang jadi 6 barisan dan posisi duduknya makin menjauh dari papan tulis. Apes kalo udah dapet duduk dibelakang. Masalahnya ini adalah kelas 3. Kalo kelas 1 ato kelas 2 sih duduk di belakang gapapa bisa main hape ato baca majalah di kolong, kalo udah kelas 3 semua itu adalah sampah. Posisi duduk menentukan prestasi. Belum kalo ulangan lagi kepepet jadi gembel juga. Nengok kiri kanan pada jauh. Dan kacaunya, gw dapet tempat duduk paling belakang di hari pertama kegiatan belajar efektif.

Kenapa gw dapet di paling belakang? Karena di hari pertama sekolah pun gw terlambat dateng ke sekolah. Jadi tempat duduk gw yang awalnya dua bangku dari depan, jadi dibajak sama temen baru gw sendiri. Apes, mau gw ambil balik tapi gak tau ngomongnya. Mau gw ajak berantem ntar jadi ga enak, temen kelas 3 masa diajak berantem, kayak anak SMP aja. Mau gw lempar tasnya keluar jendela takut ketahuan. Serba bingung. Untungnya di belakang pemandangannya enak. Bisa ngeliatin semua anak tanpa keliatan sama mereka. Karena posisi gw yang di belakang ini, hampir semua isi kolong meja temen-temen keliatan. Hampir semua pula isinya sama : Blackberry. Ayolah kawan, apakah gw spesies terakhir di dunia ini yang pake hape Nokia??? Menurut undang-undang, manusia langka seperti gw ini harus dilindungi. Kenapa sih anak jaman sekarang pada suka hape qwerty itu? Gw kan jadi envy. Kalo gak Blackberry juga pasti pada pake iPhone. Gw kan jadi envy (lagi).  Tapi Alhamdulillah gw punya henpon, daripada kagak punya. #menghiburdiri

Sekedar info lagi, setelah beberapa hari sekolah, MDV terpilih sebagai ketua kelas. Oh gilanya kelas ini. tapi untung dia mau jadi ketua kelas. Tapi tetep aja gila. Baru dinobatkan sebagai ketua kelas aja, dia langsung teriak dari kursinya sambil mukul-mukul pundak kanan, “kalian berani sama saya? Saya Boss dikelas ini! Cincang, Cincang! Ngok!”.  Bagi yang gak tau, itu adalah kata-kata yang sering diucapkan oleh peserta acara Penghuni Terakhir di ANTV. Dan MDV niruin kata-kata itu. Dia ngomong “cincang cincang” sambil memperagakan tangannya seolah lagi mencabik-cabik daging. Dan seisi kelas ketawa lagi atas tingkah polah MDV itu. Kelakuan gila lainnya, dia nulis di papan tulis dengan huruf kapital dan jelas : “KAMI KELAS XII IPA 4. KAMI ANAK DARI PARA PETANI DAN KAMI BANGGA!!!!”. Apaluteh maksutnya? Dan tulisan itu ketahuan pula sama guru Fisika. Untungnya gak dimarahin karena itu memang gak melanggar peraturan sekolah.

Adalagi kelakuan dimana tiap ada celetukan di kelas, selalu diarahkan ke harta dan jabatan orang tua. Misal, ada yang bertingkah miskin seperti minjem pulpen atau minjem buku, anak-anak sekelas selalu mencibir “ih orang miskin minjem, kayak gue dong… beli... Gw kan orang kaya… Makanya punya uang tuh ditabung, jangan jajan bibit padi terus. Bantu bapak di sawah sana...!”. Hahahaha, tentunya itu cuma becandaan internal kelas doang. Walaupun ngomong apapun pasti nyambungnya ke harta dan pekerjaan orang tua, tapi tetep dibawa ketawa aja dan gak ada yang tersinggung….. Bener-bener dah, “harta adalah segalanya” kalo di kelas gw. Dan semua itu tentu ada pemimpinnya, dan pemimpin itu adalah MDV. Selamat kawan, kau akan memimpin kelas ini kepada jalan yang lebih baik selama setahun ke depan. Gua yakin lu pasti bisa. Amin *bakar sesajen uang*….

Minggu pertama gak ada belajar, palingan cuma ada beberapa wakil dari perguruan tinggi yang masuk ke kelas gw untuk sharing pengalaman dan promosi PTN. Gw memperhatikan setiap orang yang masuk dengan antusias, karena setiapnya punya ciri khas masing-masing dalam berbicara didepan umum. Kalo alumni sekolah gw yang presentasi tentang ITB gayanya santai sambil setengah pantatnya duduk di atas meja. Ngomongnya gaul dan rada slank tapi maknanya dapet. Adalagi kakak kelas berjaket kuning yang masuk berempat. Satu orang nyetelin video tentang kampus yang gw tahu kalo dia ngedit videonya itu pake iMovie dari Apple Macintosh. Sementara temennya yang ngomong cuap-cuap, tapi gw gak terlalu dapet maknanya. Terakhir ada kakak kelas dari Akademi Militer. Seperti biasa, mereka masuk kelas dengan badan tegap yang bikin iri para lelaki dan bikin perempuan pada ketar-ketir. Yang paling mencolok adalah bajunya yang ketat memperlihatkan lekuk otot perut dan dadanya. Bikin gw envy (lagi). Setelah kakak kelas dari Akademi Militer ini akan keluar, salah satunya kayaknya naksir salah satu cewek di kelas gw. Cewek yang selama presentasi Akmil itu selalu main HP dan benerin rambut, di akhir presentasi tiba-tiba disamperin sama salah satu kaka kelas bernama Bakso. Mas Bakso lalu bilang dengan suara lantang dan nada menggoda, “gila ya ini cewek daritadi jutek banget”, sambil pasang muka mesum. Seisi kelas chaos lagi. Nih kelas hobi banget chaos. …. gw suka.

Dari awal masuk kelas, gw udah seneng dapet temen baru. Muka baru, sifat baru. Sifat manusia emang hal yang paling seru untuk ditelusuri, apa gw masuk Fakultas Psikologi aja ya? Sifat temen-temen di sini emang beda-beda semua. Ada yang pendiem, ada yang dominan, ada yang alim, ada yang freak sama belajar, ada yang mesum, and many more. Dan di minggu-minggu pertama ini, seperti tahun-tahun sebelumnya gw masih kesepian. Belum kenal banyak orang. Temen lama gw sibuk sama temen-temen barunya. Gw dilupain begitu aja, hiks hiks. They forget about what we did last summer. Iewh….

Snapshots

duduk kesepian setiap awal tahun ajaran baru (ini foto waktu kelas 2 SMA)


Foto kelasku tercinta… duduk sendiri-sendiri, berjuang sendiri-sendiri.


Lokerku tercinta… tempat meratapi nasib menaruh buku-buku yang berat dan baju olah raga.


Masih di minggu pertama, pas istirahat kelasnya langsung kosong. Tinggal gw sendirian, duduk di belakang, suram. Ibarat kartun, gw duduk sendiri di belakang kelas yang gelap, dengan lampu sorot dari atas kepala gw. Tapi itu dulu…. Sekarang gw udah gak kesepian lagi. Untungnya gw bisa bersosialisasi sama manusia. Kalo enggak, bisa-bisa gw “…bagai kecebur sungai dan gak ada yang nolongin. Ngalir gitu aja, teriak-teriak dan gak ada yang tau…”. That’s what I got from kakak kelas alumni yang lulusan ITB itu. “Kita harus cari teman sebanyak-banyaknya”. Kalo udah punya temen baru, temen lama jangan dilupain.

“Melupakan teman lama ibarat kita punya uang 100rb. Terus nemu uang di jalan 100rb, lalu uang 100rb yang lama malah dibuang. Kan kalo disimpen kan uang kita jadi 200rb, lumayan.”
-harisdarko-

Karena minggu pertama itu adalah minggu MOPDB, jadi beberapa bangku di kelas gw ada yang kosong. Hampir seperempat kelas kosong karena di kelas gw banyak anak OSIS. Mereka siap “mendidik” adek kelas supaya pada ngerti kalo sekolah di sini tuh gak semudah nyalain mesin motor. Mereka juga diperkenalkan pada budaya di sekolah ini, kalo sekedar tugas bikin karangan 1,5 lembar folio aja gak becus gimana mau sekolah disini? Dan seperti biasanya… dari 4 hari MOPDB, 2 hari terakhir tercatat hampir 20% peserta didik gak hadir. Yah cupu ah, baru dimarahin segitu doang udah kopong. Secara logika kan keselamatan mereka terjamin. Kaka kelas gak akan ada yang mukul dan gak akan ada yang ngomong kasar. Udah dapet asuransi kayak gitu aja masih aja ada yang membangkang. Mau jadi apa generasi penerus kita ini.

Satu yang gw heran sama mereka, udah dibilang jangan bawa hape pas MOPDB malah bawa Blakcberry. Udah gitu ketahuan pula isi BBM-nya yang menghina-hina MOPDB 2011. Minta disundut pake rokok ya…
Untungnya angkatan mereka dikasih nama “Rantai Emas”, coba kalo dikasih nama angkatan “Raja Singa” atau “Kanker Payudara”. Bisa apa mereka? Kan gak bisa nolak nama angkatan. Mampous la devein en parte dischoulampe…..! (bahasa perancis, artinya “mati aja lu kentang goreng!”). Tapi ya begitulah, tiap tahun angkatan baru selalu punya cerita baru, kasus baru, kesalahan baru. Toh angkatan gw juga gak bagus-bagus amat… tapi keancuran dan ke-gak-bagus-bagus-amat-an itulah yang bakal teringat oleh otak kita sampe kapanpun, dan bisa diceritain ke siapapun. sambil tertawa.

Tetep ancur teman-temanku dimanapun kalian.

(membahas “Rantai Emas” yang tadi : menurut gw itu disingkat jadi REMAS. Slogan: remas sana remas sini #ambigu ---------- FYI, gw udah mematenkan kata “Remas” sebagai kata temuan gw. Dan semua anak seangkatan gw pada ngikutin juga, tapi ga mengakui kalo itu adalah hasil otak gw. Faktanya : gw adalah trendsetter dimanapun gw sekolah, cuma temen-temen pada malu aja untuk mengakuinya  :P)
Salam ancur,
-harisdarko-
Pentinggak.blogspot.com
READ MORE - Minggu Pertama di Kelas Tiga