Anomali Stereotip

  • 1
Selamat Malam. udah lama gw gak nulis di blog ini. maaf teman-teman. Gw sibuk parah. Waktu 1 menit adalah sangat berharga bagi gw sekarang ini. Gw udah gak kayak pas SMA dulu yang cuma masuk jam 7 pulang jam 2 trus bisa main. Dulu gw santai banget. Lebih santai dari orang-orang pantai. Tapi sekarang gw sangat sibuk. Lebih sibuk dari orang-orang pantai. Kenapa gw menggunakan preposisi "orang pantai"? karena sekarang gw kuliah dekat dengan pantai. Serius men, ITS Surabaya terletak di pinggir Surabaya Timur mengarah ke pantai Kenjeran. Pantai sepi yang hanya dikunjungi oleh orang-orang beragama yang beribadah di kuil dan sesekali beberapa pasang mesum yang pacaran di tengah kegelapan pantai di tengah malam. Kenapa gw bisa tau kalo pantainya gelap? Kareng gw pernah belajar Mekanika Teknik di pantai itu jam 11 malem bareng temen-temen. Besoknya ada kuis. Yap. Kami segerombolan perantau dari Jawa Barat yang baru pertama melihat pantai yang gak bisa dipake surfing. Yaiyalah, ombaknya aja cuma setinggi mata kaki. Mata kaki kucing.

Dilihat dari tempatnya yang deket laut ini, tempat gw tinggal di Surabaya ini sangatlah panas. Menurut intuisi ngasal gw, suhu saat jam 12 malem di tempat tinggal gw ini bisa mencapai 96.8 Fahrenheit. Itulah sebabnya gw selalu keringetan sepulang kuliah. Di kamar gw selalu telanjang dada. Kebayang dong betapa kerennya gw. Gw sering mampir ke kosan temen gw yang lain untuk merasakan hawa yang lebih baik. Yang terjadi adalah kita malah telanjang dada bareng. Kita sama-sama kepanasan karena kosannya sama-sama panas, ditambah ventilasi udara yang gak lebih besar dari ibujari gajah Timor Leste, dan genteng yang terbuat dari asbes yang notabene adalah campuran logam. Jadilah kita sepasang mahasiswa teknik dengan kulit kecoklatan matang di dalam kos-kosan dengan hanya memakai celana pendek. Gak ada satupun tempat dingin di Surabaya kecuali di dalem kulkas dan kosan yang ada AC nya. Yap, benar sekali. Diantara pada perantau pas-pasan yang ngekos di sekitar kampus selalu saja ada yang punya kelebihan dana untuk membayar ruangan dengan suhu yang lebih rendah.

gersangnya Surabaya, gw berdiri diatas sebuah danau tanpa air


Sebut saja dia Zul, Deo, dan Dimas. Mereka adalah beberapa temen gw yang kosannya selalu ramai dikunjungi oleh teman-teman. Bukan karena kos-kosannya  dingin atau apa, tapi memang kamar mereka memiliki suhu dibawah 20 derajat celcius. Cukup dingin untuk membekukan keringat mahasiswa teknik yang hanya melihat perempuan 2 hari seminggu. Kosan ber AC mereka selalu ramai didatangi teman-teman yang ingin belajar atau numpang dingin. Gw termasuk di dalamnya.

Banyak banget gw temuin orang aneh di dunia baru gw ini. Sejak SMA, gw yang ber-ekspektasi bakal ketemu dengan temen2 dengan bahasa jawa yang halus dan penuh tata karma, ternyata malah dihadapkan dengan kebalikannya. Perangai kasar dan kata-kata umpatan selalu keluar dari mulut mereka. Entah karena budaya bawaan pergaulan atau apa, tapi gw sedikit kecewa. Karena semua keluarga gw adalah jawa, dan gak ada satupun dari mereka yang ngomong kayak temen2 gw sekarang ini. tapi maklum mungkin, gw masih baru. 12 tahun di kota Hujan yang orang-orang nya kalem dan slow. Dengan perangai penduduk yang sesuai ekspektasi, gw sudah terbiasa. Ternyata gw memang ditakdirkan untuk belajar dan kuliah bersama orang-orang seperti ini.

galangan kapal kamar temen gw sebelum dipermak 

galangan kapal kamar temen gw setelah dipermak, FYI: dia SMA di Jakarta

Mereka yang mayoritas belum pernah mencium asapnya ibukota Jakarta, mereka yang mayoritas belum pernah melepaskan kakinya dari wilayah timur Jawa, dan mereka yang sangat suka mengomentari para pendatang dengan komentar yang seakan bilang “oh kayak gini toh orang sana”. Anomali banget. Selama gw SMP, temen2 gw gaul semua. Gw sendiri yang gak gaul. Kenapa gitu? Karena mereka memakai apparel yang didapat dari distro lokal, dan mereka menyanyikan lagu-lagu Pee Wee Gaskins yang pas jaman SMP itu sangat gaul. Tapi itu semua berubah manjadi norak dan alay saat gw masuk SMA. Gw yang gak ‘ngikutin jaman’ pas SMP itu gak serta merta jadi alay juga karena alay era sekarang adalah veteran gaul era sebelumnya. Gw gak gaul, jadi gw gak akan bermetamorfosis jadi alay. Setidaknya sampai lulus SMA. Hahaha.. itu yang gw perhatiin saat gw pertama kali menginjakkan kaki di kota Surabaya. Teman2 gw disini seperti teman2 gw dimasa SMP. Semua sesuatu yang dibilang gaul sama temen SMP dulu, masih dipake sama temen2 gw di kuliah sekarang ini. Gw jadi kaya abis naik mesin waktu gitu.

Gaya ber-sms mereka belum bisa dibilang normal. Mereka masih menggunakan singkatan-singkatan alay dan membutuhkan kinerja otak lebih untuk memahami makna dari sms yang diketik. sebagai orang baru, gw sering memperhatikan gelagat dan gerak-gerik orang yang akan belajar bersama gw ini. and some of them is out of date. Saat gw berkumpul dalam suatu forum yang mayoritasnya adalah orang-orang asli jawa timur, kondisinya selalu beku. Awkward gak jelas gitu. Saat gw mencoba member ice breaking biar gak sepi dan mencairkan suasana, gw malah dibilang alay karena lelucon gw itu. Hey tot, harap berkaca. Kadang suka gak ngaca, alay teriak alay. Nama facebook aja belom bener udah ngatain orang alay. Dandan masih kayak TKW hasil deportasi aja udah ngatain orang alay. Pakaian dan gaya rambut masih kaya pengamen Tanah Abang aja udah ngatain orang alay. Nampaknya gw juga jadi kebawa alay. Seperti teori gw, seseorang akan kebawa lingkungan dimana ia akan lama tinggal didalamnya.

lindungi aku dari budaya purba ini

Gw dan nyokap dateng kesini berdua untuk daftar ulang di ITS. Bokap gw lagi dinas keluar kota jadi belum bisa nemenin. Saat tiba waktu untuk bertemu dengan temen-temen baru gw, mulai keliatanlah kesenjangan antara orang yang dulu tinggal di lingkungan seperti gw dan orang lokal daerah sini. Dari cara berdiri aja udah beda. Saat mulai kenalan, cara ngomong, gaya bicara, gestur, mimik wajah, semua ketara beda banget. Pergaulan emang ternyata mempengaruhi. Gw pernah ngajak kenalan seorang mahasiswa baru pas lagi training ESQ di Graha. Dia kebetulan duduk disebelah gw, maka gw memulai pembicaraan dengan cara berkenalan. Dia bilang dia berasal dari sebuah pulau di timur Bali. Gw yang ngajak kenalan duluan, tapi responnya sangatlah buruk. Dia bahkan gak ngeliat mata gw. Dari percakapan itu, gw terus yang nanya dan dia cuma jawab maksimal 2 kata. Udah gitu mukanya datar sok serius gitu. Sombong parah.

Kampus gw memiliki asrama yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin tinggal di asrama. Asrama memiliki Penjaga yang terkenal killer. Dia punya peraturan yang melarang manusia selain penghuni asrama dilarang masuk ke dalam asrama. Kalo ketahuan, siap-siap ambil cuti 3 semester deh *lebay*. Dia tipikal laki-laki berumur 48an dengan rambut beruban. Selalu patroli ngelilingin asrama naik sepeda, memakai kemeja batik, dan membawa TOA. Tiap ada sesuatu yang mencurigakan selalu diteriakin pake TOA sampe bikin kaget. Tapi gw yakin dia orang baik. Lain hal, asrama memiliki jam malam. Diatas jam 11 malam, gerbang akan ditutup dan tidak boleh lagi ada yang keluar masuk. Tapi inti ceritanya bukan itu.

para mahasiswa baru lagi nunggu kegiatan maba berikutnya, kami menyebutnya baju panda : atasan putih, bawahan hitam


Lain ladang lain belalang. Ternyata yang dianggap keren di Jakarta malah dianggap alay di disini. Sebaliknya, semua gaya alay Jakarta yang sering kalian lihat di acara Dahsyat, ada semua live action di tempat gw kuliah.

Salah satu penjaga asrama pernah berkata di awal semester saat Mahasiswa Baru, baru masuk ke asrama, “anak Jakarta dan sekitarnya itu adalah anak yang bandel. Mereka selalu pulang larut malam. Beda sama anak jawa timur yang kalem, baik, dan gak pernah pulang larut”. Gw udah kenal semua temen dari semua daerah, dan gw gak setuju sama statement itu.

Karena sesungguhnya perbedaan itu bukan untuk diperdebatkan. Hanya untuk dilihat, dinikmati, dipahami dan dihargai.


Salam ganteng,
Pentinggak.blogspot.com

1 komentar:

  1. haha sabar ris,yang di asrama itu yang di blok apaan? dimas siapa tuh ris

    BalasHapus

Silahkan isi demi terbentuknya blog yg aduhai.
Jika menggunakan anonymous ID, harap sertakan nama asli anda di akhir posting.

Jika anda mengharapkan balasan atas komentar anda, lebih baik tulis di :
- Facebook : Harisuddin Hawali
-Twitter @harisdarko.

"If you don't like some of my posts don't just post stupid comments which will be deleted... post correct comments or describe what you didn't like ,then i will improve myself"

Thank You for Visiting Pentinggak Blog