Bu Saeni, antara Warteg dan Kepentingan

  • 0
DISCLAIMER
(tulisan kali ini akan sangat sensitif terhadap beberapa pihak, karena sejujurnya gw pengen banget nulis yang menyinggung SARA. Gua muak coy sama media-media sampah diluar sana yang beritanya bikin panas akal sehat. Ini pure cuma curhat gw aja dan ditulis berdasarkan beberapa sumber non-mainstream. Tapi ini udah jadi pemikiran gw dan gw tulis di blog gw. Suka ngga papa, ngga suka juga terserah toh ini negara demokrasi. Iya demokrasi, faham yang gak banyak manfaatnya, malah lebih membuat orang jadi memanfaatkan kebebasannya untuk kepentingan yang kaya)



Markimul, mari kita mulai.

Fak! Belakangan ini timeline dari primary social media (e.g. Facebook) milik gue penuh banget sama share-share an berita yang pasti mayoritas dari kalian sudah baca juga. IYA! Ada warteg di kawasan Banten ketahuan beroperasi di siang hari bulan Ramadhan  yang lantas digerebek oleh Satpol PP. Awal liat berita itu dalam bentuk video gw sempet liat betapa bringasnya aparat itu masuk ke dalam warung dan membentak sang pemilik toko yang disinyalir bernama Ibu Eni. Dia digerebek lantaran diduga melanggar Peraturan Daerah Serang, Banten terkait jam operasional warung makan selama Bulan Ramadhan. Gw udah tau setiap daerah yang mayoritas penduduknya Muslim pasti pernah mengeluarkan peraturan seperti khusus untuk bulan Ramadhan saja. Tapi gw mulai merasa janggal dengan acara berita yang memberitakan dalam video itu. Ya benar, K****s tivi. 


TKP

Sejujurnya gw kurang suka sama kolom berita dari stasiun itu (kecuali acara hiburannya, ex: Stand Comedy Indonesia). Alasannya karena gw udah tau siapa pendiri-nya, darimana dia berasal, menganut agama apa dia, latar belakang pendidikan, dan visi kedepannya yang akan dia laksanakan. Jadi yang gw permasalahkan disini adalah sudut pandang terhadap si pembuat berita terhadap apa yang ia beritakan. Gw gak merasakan adanya keseimbangan informasi disini. Berita yang sebenernya biasa aja, bisa diberitakan cukup dua hari, namun di blow up sampe beberapa hari lamanya dengan video yang sama dan narasi yang sama-sama memperlihatkan kekejaman satpol PP Banten menyita dagangan Bu Eni, lalu memberi kesan tersirat bahwa orang Islam itu jahat, intoleran, dan tidak berperikemanusiaan. Dalem hati gw cuma bisa bilang “coeg!”

Kalo bisa gw teriak “******” di depan pembaca beritanya udah gw lakuin dah

Mari gw ceritakan :

Gw heran dalam berita itu narator berbicara yang menyiratkan bahwa aturan yang muncul saat Ramadhan ini menyulitkan kaum agama lain untuk mencari makan di siang hari. Padahal mereka sudah tau kalo mereka tinggal di negara yang mayoritas muslim dan sudah masuk Bulan Suci Ramadhan, MAYORITAS penduduk Indonesia tidak makan siang. Memang bener muslim juga ada yang gak puasa seperti wanita haid, wanita hamil, musafir, dan orang lanjut usia.

Tapi  warteg nggak cuma itu doang woi! Kalo lu non-muslim pengen makan siang kan ada tempat lain yang buka, warung babi bakar kek, foodcourt mall, atau ke kampung yang mayoritas penduduknya non-muslim pasti ada warung makan yang buka. Gw yakin banget tempat tinggal lu udah cukup luas untuk nyari tempat makan selain warteg Bu Eni. Lu bisa liat berita warteg Bu Saeni digerebek satpol PP, trus kasihan liat ibunya nangis karena makanannya disita sama satpol PP…iya gue juga kasihan, tapi cara pikir gw gak kaya kebanyakan masyarakat awam. Lu orang liat gitu doang terenyuh… apa nggak kasian juga liat MANUSIA lain, di tempat lain, di waktu yang sama, yang juga terzolimi, dan BERITANYA CUMA LEWAT DOANG DI RUNNING TEXT TELEVISI.

SUMBER
Gausahlah jauh-jauh ke Timur Tengah, lu liat aja cuk ke daerah Jakarta Utara sono. Gubernur cokin yang lu bangga-banggain bisa ngebasmi koruptor lagi asyik ngehabisin tempat tinggal rakyatnya sendiri, dipaksa pindah ke tempat yang mereka gak mau. Kalo bilangnya pemerintah udah diskusi dan penduduk tetep gamau pindah, berarti ada yang salah sama skill negosiasi mereka. Masa udah berani maju jadi stakeholder pemerintahan Ibukota Negara.. ehh negosiasi sama rakyatnya sendiri aja gak berhasil, akhirnya main gusur sembarangan dan merugikan banyak jiwa. Oke lu bisa ngebela “kan mereka digusur terus dikasih rumah susun”, lah emangnya lu mau tempat tinggal yang udah tempatin sejak lama, ada akta tanahnya, ada sertifikat hak miliknya, trus digusur sama pemimpin yang lebih mengedepankan entah kepentingannya siapa.

Eh ada lagi yang komentar, “kan kampong pulo digusur biar mereka gak kena banjir lagi, itu kan artinya gubernur menolong”. Alah ngomong taek kau! Gw tau Kampung Pulo itu emang terletak di daerah yang lebih rendah dan deket sungai jadi gampang banjir. Tapi yang lu gak tau adalah rumah “gubernur warisan” itu yang notabene terletak di Pantai Indak Kapuk (PIK) juga memiliki elevasi yang sama kaya Kampung Pulo. Jadi rumah yang digusur sama rumah orang yang ngegusur itu kondisinya sama-sama di tanah yang rendah dan rawan banjir, sama-sama illegal untuk ditempatin. Cuma bedanya warga Kampung Pulo yang mayoritas miskin gak bisa membuat status tanah mereka dari illegal menjadi legal, sementara penghuni PIK dan sekitarnya yang memiliki tingkat ekonomi berlebih tentu sangat mampu membuat status tanah mereka dari illegal menjadi legal hanya dengan mengeluarkan uang. Lagi-lagi, warga miskin yang kalah.

Trus balik lagi ke kasus Bu Eni, gw liat lagi netizen ternyata udah ngumpulin uang untuk solidaritas yang jumlahnya cukup banyak, bahkan presiden 2016 ini juga gw baca-baca mau ikutan nyumbang. See? Ibu itu sedang diuji oleh Allah dengan didatangkan satpol PP untuk menggerebek ke wartegnya, dan lu bisa lihat imbalan apa yang Allah kasih buat dia? Uang yang jaaaauh lebih banyak! malah bisa buka cabang warteg sampe ke Australia.

Seharusnya kita waspada sama penggiringan opini publik terkait berita bu Eni. Media-media yang sudah gw sebutkan diatas malah menggiring opini masyarakat ke arah sentimen agama dan menggiring bahwa perda pelarangan warung makan di Bulan Ramadhan adalah sesuatu yang intoleran. Hal ini cenderung dimanfaatkan dengan cara negatif oleh media sekuler untuk menjatuhkan citra penganut Islam di Indonesia. Maka sesungguhnya Agama yang Rahmatanlil’alamin akan mendapatkan ujian untuk naik ke derajat yang lebih tinggi dihadapanNya.

In short, STOP menyebarkan berita tentang warteg ini di socmed dengan caption yang seakan lu mendukung penghapusan perda tersebut dan membiarkan propaganda ini mengganggu timeline socmed gue lagi. Negara Muslim terbesar di dunia seperti Indonesia, Aktivitas jual beli kuliner dilakukan setelah Waktu Ashar sampai menjelang Sahur, itulah perbedaan antara bulan Ramadhan dan hari biasa.

-----------------------------

UPDATE

Baru baca juga ternyata bu Saeni bukanlah orang miskin. Dia juga bukan warga ber-KTP Serang Banten. Dia adalah pengusaha warteg asal Tegal dengan 3 cabang warteg di Kota Serang yang tidak bisa dikategorikan sebagai orang miskin. Jadi kalo ada yang ikutan nyumbang dana sampe terkumpul ratusa juta buat bu Saeni, gw cuma mau bilang: GOBLOK LOO WAKKAKAKA! Kalian cobalah datang ke Serang dan tinggal satu bulan saja disana. Rasakan budaya keIslaman yang kental disana. Jadi kalo ada Perda yang Syariah trus ditegakkan oleh Satpol PP ya warga daerah lain gausah sok-sok ngehujat.

Asal kalian tau di Papua yang mayoritas nasrani juga menegakkan aturan kekristenan mereka dengan tegas, wajar lah karena mayoritas warganya kristen. Ada warga yg melanggar langsung dihukum. Kenapa gak terekspos? Ya iyalah karena pelakunya nasrani, coba pelakunya muslim pasti di blow-up seheboh-hebohnya sama media jancuk. Indonesia ini lagi gak harmonis men, persetan lah sama toleransi. Sana hujat sini hujat, emang anjing itu penggerak-penggerak politik di atas sana. Dipimpin sama Jokowi pulak kan?? Klemer klemer gak tegas. Di-remot sama CINA juga langsung gerak orang itu.


Cuma karena kemakan berita kacangan dari media abal-abal aja lu langsung terpengaruh. Yang nyumbang itu juga ternyata kebanyakan dari orang2 non-muslim dan kaum CINA yang mendukun aturan-aturan bernuansa Islam di Indonesia untuk dihapuskan. Mereka sengaja mendukung dan ikut memblow-up berita itu dengan tujuan membelokkan opini masyarakat tentang aturan yang syariah. Maka orang-orang kafir itu tidak akan pernah berhenti untuk meredupkan ajaran Islam.


Be Smart ya.
We're in Cold War.


Ini media gue, tulisan gue, terserah gue.
Surabaya, 10 Ramadhan 1437H
02:10 AM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan isi demi terbentuknya blog yg aduhai.
Jika menggunakan anonymous ID, harap sertakan nama asli anda di akhir posting.

Jika anda mengharapkan balasan atas komentar anda, lebih baik tulis di :
- Facebook : Harisuddin Hawali
-Twitter @harisdarko.

"If you don't like some of my posts don't just post stupid comments which will be deleted... post correct comments or describe what you didn't like ,then i will improve myself"

Thank You for Visiting Pentinggak Blog